Ketua Umum REI Eddy Hussy menyatakan, optimisme tersebut timbul dari program amnesti pajak yang secara langsung memaksa masyarakat untuk mengakui aset-asetnya yang selama ini belum tercatat oleh negara.
Menurutnya, jika masyarakat sudah mengakui semua asetnya, maka tidak akan ada lagi ketakutan untuk membeli properti atau yang lainnya karena tidak ingin diketahui oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eddy menilai kuartal II tahun depan sektor properti kembali menggeliat, karena program amnesti pajak sendiri selesai pada Maret 2017. Sehingga, setelah semua dana amnesti pajak masuk, tentu sektor properti dipastikan kena imbasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2015 jumlah kebutuhan rumah mencapai 11,4 juta unit. Sehingga, pemerintah mengakalinya dengan membuat program satu juta rumah sejak tahun lalu yang juga dimasukkan dalam program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
“Perumahan ini akan selalu menjadi kebutuhan masyarakat,” imbuh Eddy.
“Tergantung. Masih tetap perumahan, perumahan masih tetap jadi kebutuhan. Tapi kalau soal apartemen dan rumah tapak tergantung daerah. Kalau Jakarta ya mungkin bisa dua-duanya, jadi bisa apartemen dan rumah tapak. Kalau ke daerah mungkin rumah tapak ya,” terang dia.
Dengan demikian, ia menyimpulkan tahun 2017 akan menjadi tahun di mana properti akan mulai tumbuh kembali setelah beberapa tahun terakhir ini melambat. (gir/gen)