Pendapatan perusahaan yang didirikan William Soeryadjaya ini tercatat turun 4 persen menjadi Rp132,29 triliun sejak awal tahun hingga akhir September, dari Rp138,17 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Lini bisnis jasa keuangan, teknologi informasi, serta alat berat dan pertambangan menjadi pemberat laju kinerja keuangan Astra International.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Terutamanya Bank Permata yang mencatat kerugian akibat peningkatan signifikan pada provisi kerugian atas pinjaman yang diberikan,” ujarnya, Senin (31/10).
“United Tractors juga merasakan dampak negatif dari apresiasi rupiah terhadap translasi aset berdenominasi dolar AS, dimana pada tahun sebelumnya terdapat pengaruh positif terhadap translasi tersebut,” jelas Prijono.
Lebih lanjut, laba bersih dari segmen teknologi informasi Astra turun sebesar 15 persen menjadi Rp105 miliar. PT Astra Graphia Tbk, yang 76,9 persen sahamnya dimiliki oleh Perseroan, melaporkan penurunan laba bersih sebesar 15 persen menjadi Rp137 miliar, disebabkan oleh menurunnya marjin meskipun terjadi peningkatan pendapatan.
Di sisi lain, lini bisnis Grup Astra yang baru, yaitu properti, mencatatkan kinerja yang cemerlang. Laba bersih dari segmen properti sebesar Rp84 miliar, meningkat secara siginifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015 yang sebesar Rp5 miliar.
“Kinerja Grup Astra pada tahun ini diharapkan merefleksikan terus membaiknya kinerja bisnis otomotif, bersamaan dengan beberapa peningkatan kinerja di bisnis agribisnis serta sedikit pulihnya bisnis alat berat dan pertambangan, walaupun masih ada kekhawatiran terhadap tingkat kredit bermasalah di Bank Permata,” tukas Prijono.