Direktur Utama Krakatau Steel Sukandar menjelaskan, rugi bersih tersebut masih dialami perusahaan disebabkan oleh rugi selisih kurs sebesar US$44,55 juta dari sebelumnya yang mendapat laba selisih kurs sebesar US$82,98 juta.
"Kan kami ada utang dolar AS dan rupiah, jadi meski rupiah terbilang stabil belakangan ini tapi tetap saja berdampak pada kami," ungkap Sukandar, Senin (31/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditambah pula dengan harga penjualan baja yang turun jika dibandingkan dengan sembilan bulan pertama tahun lalu. Untuk Hot Rolled Coil (HRC) atau baja lembaran canai panas tercatat turun 14,33 persen menjadi US$437 per ton dari sebelumnya US$511 per ton, kemudian Cold Rolled Coil (CRC) atau baju lembaran canai dingin turun 12,37 persen menjadi US$545 per ton dari US$622 per ton.
Perusahaan mencatat penurunan pendapatan 0,10 persen menjadi US$982,28 juta dari sebelumnya US$993,38 juta. Namun, keuangan perusahaan sedikit terbantu dengan beban pokok pendapatan yang turun 16,76 persen menjadi US$844,3 juta dari sebelumnya US$1,01 miliar. Namun,
"Harga baja rata-rata turun, tapi kami bisa dapat perbaikan performa karena beban pokok pendapatan kami turun," ungkap Sukandar.
Selain itu, meski harga baja rata-rata naik tetapi volume penjualan peusahaan tercatat tumbuh 22,25 persen menjadi 1,68 juta ton dari sebelumnya 1,37 juta ton. Pertumbuhan tersebut disumbang oleh HRC yang tumbuh 40,76 persen menjadi 891 ribu ton, CRC tumbuh 6,49 persen menjadi 409 ribu ton, dan produk pipa baja tumbuh 61,38 persen menjadi 60,3 ribu ton.
Peningkatan tersebut disebabkan maraknya konsumsi baja domestik yang terkait dengan proyek infrastruktur yang tengah digenjot oleh pemerintah. Misalnya saja, bulan ini Krakatau Steel telah menandatangani kontrak untuk memasok kebutuhan baja profil (besi siku) untuk proyek tower transmisi listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) 46 ribu kilometer sirkit (KMS).
"Jadi ini imbas dari proyek infrastruktur yang lagi digenjot pemerintah. Kami optimistis permintaan baja domestik akan terus meningkat. Di sini kami melihat komitmen pemerintah dalam menggunakan produk baja lokal untuk memenuhi kebutuhan baja proyek pemerintah," terang Sukandar.
Dengan peningkatan volume penjualan tersebut, laba kotor perusahaan tercatat mengalami kenaikan menjadi US$137,98 juta. Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perusahaan mengalami rugi kotor sebesar US$20,89 juta. Selain itu, perusahaan juga mencatat laba operasi sebesar US$28,79 juta jika dibandingkan dengan sebelumnya yang tercatat rugi sebesar US$118,33 juta.
Hingga akhir September, total aset perusahaan tumbuh tipis sebesar 3,51 persen menjadi US$3,83 juta dari posisi akhir tahun 2015 US$3,7 juta. Sementara, total liabilitas naik 6,28 persen dari US$1,91 juta menjadi US$2,03 juta.