Direktur Utama Inalum Winardi Sunoto mengatakan, keterlambatan itu akibat logistik konstruksi yang datang terlambat dari jadwal. Hasilnya, tingkat kemajuan (progress) pembangunan proyek billet dan alloy baru mencapai 75 persen per November.
"Kami harap Januari sudah bisa commissioning, namun memang agak sedikit terlambat ya terutama karena peralatan. Tapi saya kira tidak akan mengubah rencana," terang Winardi, Kamis (3/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping itu, produk billet dan alloy ini rencananya akan disalurkan ke pasar dalam negeri, mengingat kebutuhan aluminium Indonesia juga sangat tinggi.
"Saat ini kebutuhan dalam negeri saja sudah banyak, dan market share pasar kan hanya ambil 40 persen. Kami tidak ada saingan untuk dalam negeri," tambahnya.
Kendati terlambat dari jadwal, Winardi mengatakan bahwa target produksi 500 ribu ton per tahun pada 2020 masih mungkin dicapai.
Selain billet dan alloy, Winardi mengatakan bahwa perusahaan juga akan masuk di dalam produksi kabel transmisi aluminium (wire rod). Menurutnya, bisnis ini juga terbilang menjanjikan karena kabel aluminium lebih murah dibandingkan tembaga.
Ia melanjutkan, penambahan produksi wire rod ini masih dalam tahap studi kelayakan (feasibility study). Sehingga, ia tak tahu kapan wire rod ini bisa dihasilkan perusahaan.
"Dan nanti juga tergantung kapasitas pabrik kami. Sekarang kami masih ada sisa kapasitas produksi 140 ribu ton, bisa buat wire rod dan bisa jadi buat penambahan produk lain," terangnya.
Sebagai informasi, kebutuhan aluminium Indonesia mengambil 1,33 persen porsi konsumsi dunia pada tahun 2016 tercatat 60 juta ton. Kapasitas produksi perusahaan akan ditambah sampai 1 juta ton per tahun pada 2025 demi memenuhi prediksi konsumsi domestik sebesar 1,3 juta ton per tahun. (gen)