Direktur Utama Antam Tedy Badrujaman mengatakan, raihan laba itu merupakan peningkatan kentara apabila dibandingkan dengan rugi semester pertama tahun lalu yang sebesar Rp396 miliar.
"Dengan adanya peningkatan harga komoditas saat ini, kami optimistis, kami dapat memberikan tingkat profitabilitas, dan imbal hasil yang baik kepada pemegang saham di akhir tahun nanti," tutur dia, seperti dikutip dari keterangan resmi, Jumat (2/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diikuti oleh komoditas feronikel yang tercatat sebagai kontributor penjualan terbesar kedua. Penjualannya mencapai Rp950 miliar atau sebesar 23 persen dari seluruh penjualan yang dibukukan perusahaan tambang negara tersebut.
Terkait proyek pembangunan pabrik feronikel haltim (P3FH), Tedy mengaku, perkembangan masih berjalan dengan baik setelah proses rights issue akhir tahun lalu.
Sementara itu, lanjut dia, progress proyek perluasan pabrik feronikel pomalaa (P3FP) yang akan selesai di tahun 2016 sudah mencapai 99,69 persen. P3FP bakal meningkatkan kapasitas produksi feronikel dari 18.000-20.000 TNi menjadi 27.000-30.000 TNi per tahun.
Sedangkan, untuk progress proyek smelter grade alumina refinery (SGAR), Antam terus melanjutkan diskusi dengan PT Inalum (Persero) dan mitra strategis.
Sebagai informasi, Antam dan Inalum telah sepakat untuk membentuk perusahaan patungan, PT Inalum Antam Alumina, guna pengembangan Proyek SGAR. Dalam Proyek Anode Slime & Precious Metal Refinery, Antam juga masih melanjutkan diskusi dengan PT Freeport Indonesia dan PT Smelting. (bir)