Berdasarkan data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), sembilan sektor lainnya mengalami pelemahan, terutama sektor agrikultur, yaitu turun 2,79 persen ke level 1.744,617 dari 1.794,858 pada pekan lalu.
Pelemahan juga diikuti oleh sektor-sektor lain, seperti properti 2,3 persen, industri dasar 2,08 persen, infrastruktur 1,69 persen, perdagangan 1,22 persen, manufaktur 1,11 persen, barang dan konsumsi 1,02 persen, serta sektor keuangan 0,28 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kenaikan indeks sektor pertambangan jelas karena harga batu bara yang tinggi, nggak ada yang lain,” ungkap Budi, ketika dihubungi, Jumat (4/11) lalu.
Adapun, pelemahan yang terjadi pada sektor agrikultur dikarenakan perolehan kinerja emiten perkebunan tidak sesuai ekspektasi. Meski, saat ini, tren harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) mulai beranjak positif.
“Kemungkinan besar karena kinerja keuangan mereka yang tak sesuai ekspektasi. Memang, emiten-emiten CPO tumbuh, tetapi mungkin tak sesuai ekspektasi saja,” katanya.
Untuk pekan depan, Budi memprediksi, indeks sektor pertambangan masih terus akan tumbuh dan menjadi nomor satu di antara indeks sektoral lainnya. Selain itu, ia juga melihat indeks properti akan tumbuh pekan depan.
“Sektor properti sudah mulai naik, tetapi tetap sektor tambang kemungkinan masih jadi yang teratas,” pungkasnya. (bir)