Kondisi ini menurutnya berkorelasi dengan masih rendahnya realisasi penerimaan pajak sampai Oktober 2016 yang baru sebesar Rp870,95 triliun atau 64,27 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 sebesar Rp1.355,2 triliun.
"Data pertumbuhan ekonomi kuartal III menunjukkan denyut ekonomi Indonesia yang melemah, masih melemah kalau dilihat sejak 2015," tutur Sri Mulyani saat memberikan arahan dalam Rapat Pimpinan Nasional DJP di Kantor Pusat DJP, Senin (7/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti akan terlihat dampaknya pada penerimaan pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai yang berhubungan dengan ekspor-impor yang negatif," ujarnya.
"Ini termasuk yang cukup lemah karena kemarin dari Otoritas Jasa Keuangan mendengar bahwa kredit perbankan juga cuma tumbuh sekitar 5 persen," keluhnya.
Untungnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,01 persen pada kuartal lalu dinilai Sri Mulyani masih cukup kuat sehingga bisa menjadi potensi sumber penerimaan pajak.
Sri Mulyani sendiri mengaku telah mendiskon target uang yang harus dikumpulkan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) tahun ini sebesar Rp218 triliun dari Rp1.355 triliun dalam APBNP 2016 menjadi Rp1.137,2 triliun. Hal itu dilakukan setelah memperhitungkan risiko perlambatan perekonomian global dan perdagangan internasional.
"Coba kalau Menterinya tidak ganti, Anda (pegawai DJP) harus mengumpulkan Rp218 triliun lagi," candanya. (gen)