Sementara di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp13.086 per dolar Amerika Serikat (AS), atau turun 18 poin (0,14 persen) setelah bergerak di kisaran Rp13.077-Rp13.117.
RTI Infokom mencatat, investor membukukan transaksi Rp6,94 triliun dengan volume 10,99 miliar saham. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi jual bersih (net sell) Rp878,9 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Asia, mayoritas indeks saham bergerak menguat. Kondisi itu ditunjukkan oleh indeks Nikkei225 di Jepang yang naik sebesar 1,61 persen, indeks Kospi di Korsel naik sebesar 0,79 persen, dan indeks Hang Seng di Hong Kong naik sebesar 0,7 persen.
Kepala Riset Buana Capital Alfred Nainggolan menilai, kenaikan IHSG hari ini imbas dari hijaunya IHSG pada penutupan akhir pekan lalu. Selain itu, rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2016 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 5,02 persen ikut menambah sentimen positif bagi laju IHSG. Meskipun, angka tersebut di bawah prediksi pasar 5,04 persen.
"Bukan semata karena faktor pertumbuhan ekonomi ya, karena pasar melihat tidak ada sentimen negatif saja hari ini. Sebenernya 5,02 itu kan tidak jauh memang dari prediksi 5,04, jadi pasar relatif tidak kaget. Kan pemerintah juga sudah katakan jika pertumbuhan ekonomi kuartal III tak akan setinggi kuartal II. Jadi walaupun lebih kecil dari prediksi ini bukan berita buruk bagi pasar," ujar Alfred.
"Masalah utama kebijakan The Fed, tinggal satu bulan lagi, jadi lebih ke sana," kata dia.
Adapun, pelaku pasar masih terus mengantisipasi dampak dari pemilihan presiden (Pilpres) AS esok hari. Namun, ia optimis siapa pun yang terpilih, baik Hillary Clinton atau Donald Trump, mereka akan mengambil kebijakan untuk memajukan perekonomian dunia.
"Siapa pun presidennya pasti akan berpikir yang terbaik untuk ekonomi global," pungkas Alfred. (gen)