"Sudah price in, pelaku pasar punya ekspektasi. Namun, kami selalu pantau itu dan jadi bagian review (kajian) kami," tutur Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad di Jakarta, seperti dilansir Antara, Senin (7/11).
Namun, menurut Muliaman, tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan akan terjadinya dana keluar (capital outflow) akibat sentimen dari pilpres AS tersebut, terutama yang disebabkan ekspektasi kenaikan bunga The Fed.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak, tidaklah terlalu banyak (ketergantungan terhadap suku bunga The Fed). Kita terus membangun ekonomi domestik," katanya.
Biaya Menyusut
Di sisi lain, Muliaman menilai, kinerja industri keuangan juga sudah mulai membaik, setelah banyak tertekan sepanjang tahun lantaran lambatnya pemulihan ekonomi domestik dan global.
Industri perbankan, sambung dia, pada kuartal keempat nanti sudah dapat mengurangi biaya pencadangannya karena rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dalam tren menurun.
Buktinya, NPL perbankan hingga September 2016 turun menjadi 3,1 persen (gross) dibandingkan Agustus 2016 yang sebesar 3,2 persen (gross).
"Pertumbuhan kredit perbankan sudah menggeliat lagi. Istilahnya ini sudah kembali ke atas. Tetapi, kami lihat lagi karena pertumbuhan ekonomi belum terlalu fantastis, meskipun tren positifnya sudah kelihatan," pungkasnya. (bir/gen)