Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, indikator ekonomi yang membuat Indonesia unggul adalah perbaikan ketimpangan antara orang kaya dan miskin atau koefisien gini ratio.
"Pertumbuhan ekonomi China tinggi tapi gini ratio-nya tidak membaik. Karena memang tak selalu sejalan antara pertumbuhan yang tinggi dengan perbaikan distribusi pendapatan," ungkap Darmin dalam paparan Outlook Ekonomi Indonesia 2017, Kamis (10/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Walau pertumbuhan ekonomi kita 5 persen tapi kualitas gini ratio membaik dan itu tidak mudah dilakukan. Kualitas adalah barang yang lebih sulit dicapai dibandingkan pertumbuhan itu sendiri," jelas Darmin.
Catatan ini membaik bila dibandingkan capaian gini ratio pada Maret 2015 sebesar 0,408 dan lebih baik bila dibandingkan gini ratio September 2015 sebesar 0,402.
Bahkan, sejak Maret 2013 sampai September 2015, gini ratio Indonesia berada dikisaran 0,4 tapi per Maret 2016 berhasil membaik ke 0,397.
Sedangkan pertumbuhan ekonomi China stagnan dikisaran 6,7 persen dengan prediksi ekonomi China sampai akhir tahun berada dikisaran 6,5 persen sampai 7 persen.
Parameter lain yang menunjukkan kualitas ekonomi Indonesia dibanding China, menurut Darmin adalah penurunan garis kemiskinan dan berkurangnya jumlah pengangguran.
Data terakhir BPS menunjukkan garis kemiskinan Indonesia turun menjadi 10,86 persen di Maret 2016 dari sebelumnya 11,13 persen di September 2015 dan 11,22 persen di Maret 2015.
Sementara untuk jumlah pengangguran, per Oktober 2016, BPS mencatat pengurangan jumlah pengangguran sebanyak 530 ribu orang.
Selain lebih baik dibanding China, Indonesia juga dianggap Darmin mampu mengoreksi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik bila dibandingkan dengan apa yang dilakukan negara lain saat perekonomian dunia yang belum stabil.
"Ekonomi dunia di 2015 diperkirakan 3,3 persen lalu turun 3,1 persen, tahun depan juga begitu. Optimisme di awal tahun ada tapi realitasnya tidak seperti yang diharapkan," kata Darmin.
"China yang diperkirakan 6,5 persen, tahun depan 6,2 persen. Yang paling tinggi adalah India 7,6 persen, tahun depan tetap 7,6 persen. Asia 4,8 persen tahun depan 5,1 persen," lanjutnya. (gen)