Penjelasannya, jika suku bunga AS naik lebih cepat dari perkiraan, maka investor berbondong-bondong untuk mengalihkan investasi ke Negeri Paman Sam tersebut. Hal itu membuat nilai tukar dolar AS menguat karena dinilai lebih menarik.
Pelemahan kali ini merupakan yang terparah sejak September 2011. Sementara di kawasan Asean, dolar AS juga menguat terhadap ringgit Malaysia, peso Filipina dan baht Thailand.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Mengingat tren sekular di pasar uang bergantung pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan arah suku bunga dari kedua negara, pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi di AS dapat memacu pertumbuhan. Sementara kenaikan suku bunga yang diprediksi lebih cepat akan mendorong nilai tukar dolar AS,” jelasnya.
Di sisi lain, ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan rupiah tertekan isu domestik. Ia menilai rupiah melemah pada perdagangan Kamis lalu bahkan di saat dolar AS melemah terhadap mayoritas kurs di Asia.
“Faktor domestik yang semakin negatif, termasuk kekhawatiran demonstrasi yang bisa berujung kerusuhan di Jakarta hari ini, menjadi penyebab utama tertekannya rupiah,” ujarnya dalam riset.
“Fokus domestik juga akan tertuju pada consumer confidence index yang rilis hari ini dan diperkirakan memburuk. Cadangan devisa serta pertumbuhan PDB menjadi yang berikutnya ditunggu, dijadwalkan diumumkan awal minggu depan. Rupiah diperkirakan masih diliputi sentimen pelemahan pada perdagangan hari ini,” jelasnya. (gir/gen)