Anggota Dewan Komisioner LPS Destry Damayanti memaparkan kenaikan FFR utamanya dipicu oleh membaiknya perekomian AS pada kuartal III 2016.
Salah satu indikatornya adalah tingkat inflasi AS yang mulai meningkat. Per September lalu, secara bulanan, inflasi AS tercatat 0,3 persen atau meningkat dari bulan sebelumnya, 0,2 persen. Secara tahunan, inflasi September 2016 tercatat sebesar 1,5 persen, tertinggi sejak Oktober 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kemarin ekonomi Amerika pada kuartal III, not bad sehingga tren naik masih ada,” kata Destry saat ditemui dalam diskusi Paguyuban Mas Tentara Republik Indonesia Pelajar di Gedung Auditorium Institut Perbanas Jakarta, Sabtu (12/11).
“Pengaruh dari Presidennya juga, Trump kan cenderung ingin menaikkan suku bunga FFR supaya bisa menjaga stabilitas, supaya jangan kelewatan tahu-tahu inflasi AS nanti sudah terlalu tinggi,” ujarnya.
“Pasar sudah memperkirakan FFR akan naik, yang pasar tidak perkirakan adalah kemenangan Trump. Jadi sekarang pasar masih mencerna apakah Trump secara individual akan sama dengan Trump sebagai presiden,” ujarnya.
Sebagai informasi, The Fed mempertahankan FFR di rentang 0 – 0,25 persen selama tujuh tahun,dari Desember 2008 hingga Desember 2015. Setelah itu, The Fed menaikan FFR sebesar 25 basis poin ke level 0,25 – 0,50 persen dan berlaku hingga kini. Kebijakan moneter akomodatif itu dipertahankan guna mendorong pertumbuhan pasar tenaga kerja dan mencapai target inflasi sebesar 2 persen. (gen)