"Itu karena The Federal Reserve mau naikin [suku bunga]," tanggap Bambang di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (11/11).
Namun begitu, Bambang menampik alasan penguatan dolar AS terhadap rupiah sebagai imbas hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) yang memenangkan Donald Trump dari Partai Republik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"The Federal Reserve memang mau menaikkan setelah pemilihan presiden selesai," imbuhnya.
Kemudian, terhadap pelemahan rupiah pagi ini, Bambang mengingatkan agar pemerintah tetap fokus menjaga fundamental ekonomi Indonesia hingga akhir tahun.
"Pokoknya jaga fundamental, jaga kepercayaan, dan dipastikan ini hanya temporer [dampak pelemahan rupiah]," jelas Bambang.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS amblas pada perdagangan hari ini dan sempat menyentuh Rp13.865 atau melemah hingga 5,55 persen dari Rp13.138 kemarin. Hal itu akibat spekulasi kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat dari perkiraan karena kebijakan Presiden AS yang baru, Donald Trump.
Kepala Riset Daewoo Securities, Taye Shim mengatakan, Donald Trump berencana menaikkan anggaran belanja pemerintah, yang berpotensi meningkatkan inflasi AS. Hal itu membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed mungkin harus menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.
“Mengingat tren sekular di pasar uang bergantung pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan arah suku bunga dari kedua negara, pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi di AS dapat memacu pertumbuhan. Sementara kenaikan suku bunga yang diprediksi lebih cepat akan mendorong nilai tukar dolar AS,” jelasnya. (gir/gen)