Direktur Utama Bank BRI Syariah Moch. Hadi Santoso menjelaskan, sebelum menarik dana segar dari IPO, perusahaan telah lebih dulu menerbitkan surat utang syariah atau sukuk subordinasi I senilai Rp1 triliun. Di mana tepat pada hari ini, Kamis (17/11), sukuk tersebut resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penerbitan sukuk dilakukan untuk mengetes kondisi pasar.
"Hari ini kan kami mengetes kondisi pasar dulu, dengan adanya ini, kalau dilihat dari kondisi pasar ini misalnya terjadi persamaan dengan tahun depan, ya berarti laku," ungkap Hadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kan masih harus bernapas dulu. Kalau jujur, dengan kejadian Trump effect ini pasar langsung bergejolak," papar Hadi.
Saat ini, total permodalan yang dimiliki perusahaan sebesar Rp2,47 triliun. Artinya, dengan penerbitan sukuk ini maka permodalan perusahaan akan bertambah menjadi Rp3,47 triliun.
Dari sisi kinerja perusahaan, aset BRI Syariah meningkat pada akhir September sebesar Rp2,75 triliun atau naik 12,07 persen dari Rp22,81 triliun akhir September tahun lalu menjadi Rp24,53 triliun.
Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik Rp2,1 triliun atau 11,7 persen menjadi Rp20,97 triliun dari sebelumnya Rp18,86 triliun. Perusahaan pun membukukan laba bersih hingga akhir September sebesar Rp129,16 miliar atau naik 5,21 persen dari Rp93,29 miliar.
Sementara itu, BRI Syariah menargetkan pembiayaan pada tahun depan bisa tumbuh sekitar Rp5 triliun menjadi Rp23 triliun. Sementara, hingga saat ini total pembiayaan sekitar Rp18 triliun dan ditargetkan hingga akhir tahun menyentuh angka Rp18,8 triliun. (gir/ags)