Andiwiana S, Deputi Direktur Departemen Komunikasi BI mengatakan, keputusan CCB nol persen lantaran belum adanya indikasi pertumbuhan kredit yang berlebihan yang berpotensi meningkatkan resiko sistemik. Kesenjangan antara kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan indikator utama CCB.
"Hal ini juga sejalan dengan pertumbuhan kredit yang belum optimal, yakni sebesar 6,47 persen (year on year/YOY) per September 2016, serta pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen atau lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, yakni 5,18 persen," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (22/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuan instrumen CCB ini adalah mencegah peningkatan resiko sistemik yang bersumber dari pertumbuhan kredit yang berlebih (excessive credit growth).
"Dengan besaran CCB nol persen, diharapkan perbankan tetap dapat meningkatkan fungsi intermediasinya dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, mengingat tidak ada kewajiban bank untuk membentuk tambahan modal," kata Andiwiana. (bir)