Ketua Bidang Statistik Riset, Analisis, TI dan Aktuaria AAUI Dadang Sukresna mengatakan dari 15 lini bisnis asuransi umum terdapat tiga lini bisnis yang masih kekurangan darah, yaitu asuransi Kendaraan Bermotor, Pengangkutan Laut dan Kecelakaan.
Tercatat pendapatan premi bisnis asuransi kendaraan bermotor mencapai Rp11,61 triliun atau turun 5,4 persen dibanding dengan premi kuartal III tahun lalu yang mencapai Rp12,27 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penurunan premi asuransi kendaraan bermotor itu menurut Dadang telah menahan laju pertumbuhan premi secara industri, mengingat pangsa pasar lini usaha asuransi kendaran bermotor mencapai 25 persen atau seperempat dari total pangsa pasar asuransi umum.
Sementara itu pertumbuhan premi asuransi cukup signifikan terjadi pada lini usaha asuransi satelit yang melonjak tajam menjadi Rp79,43 miliar atau naik 524 persen dari kuartal III tahun lalu yang hanya Rp12,72 miliar.
"Pertumbuhan ini disebabkan oleh mulai mengorbitnya salah satu satelit milik Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang mulai meluncur tahun ini," katanya.
Sementara dari sisi pembayaran klaim, lini bisnis asuransi tanggung gugat tercatat mengalami kenaikan yang cukup signifikan yakni 217 persen dari Rp73,5 miliar menjadi Rp231,96 triliun (yoy).
Pada akhir tahun nanti, Dadang memproyeksikan pertumbuhan premi asuransi umum bisa mencapai angka 10 persen. Berdasarkan siklus bisnisnya, Dadang mengatakan momen libur nasional selama bulan Desember dinilai mampu mendongkrak daya beli masyarakat terutama untuk membeli barang atau benda yang membutuhkan jasa asuransi.
"Kalau diperhatikan di kuartal IV mendatang dengan asumsi pertumbuhan premi harta benda tetap mencapai 7 persen dan pertumbuhan minus kendaarn bermotor bisa berkurang 2 persen, kami perkirakan pertumbuhan premi asuransi umum di akhir tahun bisa mencapai 9-10 persen," jelasnya.