"Front loading tetap dilakukan, 60 persen porsinya, sangat mirip dengan 2016. Meskipun tahun lalu itu lebih agresif karena sampai 70 persen," ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Robert Pakpahan, Kamis (24/11).
Lebih rinci, Robert memaparkan pembiayaan melalui utang ditargetkan sebesar Rp384,69 triliun yang terdiri dari SBN neto sebesar Rp399,9 triliun dan pinjaman neto sebesar minus Rp15,30 triliun. Penerbitan yang sebesar Rp399,9 triliun atau secara bruto mencapai Rp597,035 triliun akan dilakukan melalui penerbitan di pasar domestik dan internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski dampaknya diklaim tidak terlalu besar, namun potensi volatilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) masih harus membuat pemerintah berhati-hati menentukan waktu yang tepat untuk menerbitkan obligasi negara tahun depan.
Sementara itu Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Suahasil Nazara mengungkapkan, di samping menerbitkan surat utang, pemerintah juga akan fokus menggenjot penerimaan pajak.
Ia mengungkapkan pertumbuhan target penerimaan pajak tahun depan sebesar 13,5 persen cukup beralasan mengingat potensi penerimaan pajak masih besar karena tax ratio Indonesia masih rendah dibanding negara lain.
"Pemerintah fokus pada penerimaan pajak, bukan hanya melalui amnesti pajak, melainkan juga dari kegiatan ekonomi rutin," kata Suahasil. (gen)