“Rush money tidak pernah kami hitung bahwa itu akan terjadi, karena itu suatu ungkapan di media sosial yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tutur Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo usai menghadiri acara diskusi publik di Hotel Shangri-la Surabaya, Jumat (25/11).
“Ke depan, jangan sampai ada provokasi seperti itu lagi,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami tidak ingin isu itu masuk dalam pikiran rakyat Indonesia karena kalau isu itu dibaca oleh masyarakat yang tidak kuat latarbelakangnya,nanti bisa ikut-ikutan,” tambahnya.
“Kepercayaan terhadap perbankan tinggi karena perbankan kita tidak ada masalah. Permodalannya 23 persen, rasio kredit bermasalah nettonya 1,5 persen, jauh di bawah 5 persen. Selain itu, bank sentral selalu siap untuk berada di pasar,” ujarnya.
“Saya berharap mereka yang melakukan penghasutan seperti itu ditindak secara tegas karena mereka melakukan ancaman terhadap kepentingan masyarakat bersama,” tutur Sri Mulyani, Senin (21/11) lalu.
Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigjen Bareskrim Polri Agung Setya mengungkapkan, pihak kepolisian telah melacak sebanyak 70 akun media sosial yang diduga kuat melakukan provokasi dengan menyebarkan isu terkait rush money.
"Kami sudah mengidentifikasi penyebar isu rush money. Polri bersama BI dan Otoritas Jasa Keuangan juga sudah berdiskusi untuk melihat secara objektif kondisi perbankan kita. Semua yang disebarkan dalam isu rush money sangatlah tidak tepat," ujar Agung usai rapat koordinasi dengan BI dan OJK di gedung Bareskrim, Senin (21/11) lalu.