Muliaman mengatakan menurut laporan bank dalam Rencana Bisnis Bank (RBB), industri perbankan telah merampungkan restrukturisasi kredit bermasalah yang merupakan warisan dari tahun-tahun sebelumnya, terutama di sektor tambang yang terpukul akibat jatuhnya harga.
"Tahun depan optimistis akan lebih baik, karena NPL yang sekarang itu kan sisa-sisa dari 2015 terutama ketika sektor tambang terpukul cukup dalam, sehingga praktis tahun ini semua bank sangat berhati-hati sehingga banyak yang kreditnya minus. Sehingga dengan demikian bank juga membentuk pencadangan cukup besar," ujar Muliaman, Selasa (29/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tren agak menyehatkan, istilahnya kurus tapi lebih sehat. karena demikian risiko-risiko kredit lebih ter-cover, NPL tahun depan bisa turun di bawah 3 persen saja sudah sangat luar biasa," ujarnya.
Itu sebabnya, OJK memperkirakan, laju NPL secara industri di akhir tahun ini berpeluang turun hingga di bawah 3 persen. Dengan catatan, pertumbuhan kredit pada Oktober 2016 sebagus bulan sebelumnya.
Sementara itu, Direktur Korporasi Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar mengatakan pemulihan harga komoditas yang mulai merangkak naik memberi sedikit angin segar bagi perbankan. Harga-harga komoditas seperti kelapa sawit dan batu bara dinilai sedikit memulihkan kemampuan nasabah dalam melunasi kredit.
"Tahun depan untuk NPL korporasi bisa di bawah 1 persen lah kalau harga komoditas bisa mulai membaik tahun depan," ujarnya. (gen)