Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Adib Ubaidillah menyatakan, pinjaman tersebut dibagi beberapa jenis. Sebesar US$100 juta dengan skema Fasilitas Pinjaman Transaksi Khusus untuk pembiayaan belanja modal, US$130 juta. Kemudian skema Treasure Line untuk memenuhi kebutuhan likuiditas valuta asing dalam operasional perusahaan dan Rp700 miliar berupa fasilitas Trust Receive.
Selanjutnya, fasilitas pendanaan tersebut dapat diberikan kepada mitra bisnis. Masing-masing sebesar Rp700 miliar berupa Mandiri Supplier Financing, sebesar Rp300 miliar berupa Invoice Financing, termasuk acknowledge antara Bukit Asam, PT Kereta Api Indonesia dan Bank Mandiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, saat ini Bukit Asam memiliki kontrak pasokan batu bara jangka panjang untuk konsumen domestik hingga 30 tahun ke depan sebesar 574 juta ton. Untuk sektor PLTU, pada 2020 diharapkan perseroan sudah memiliki sejumlah pembangkit dengan total kapasitas sebesar 1.500 megawatt, dan tahun 2025 sekitar 4.500 megawatt.