Seperti diketahui, harga minyak dunia melambung signifikan sejak organisasi negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) sepakat untuk memangkas produksinya pertama kali sejak tahun 2008.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Aditya mengatakan dampak harga minyak dunia terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan tahun 2014 ke belakang. Beban harga minyak dunia terhadap APBN secara langsung dinilai semakin kecil sejak pemerintah memutuskan untuk mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan angka subsidi yang besar tersebut, maka setiap terjadi kenaikkan harga minyak dinilai mampu memberikan tekanan, Tekanan tersebut muncul, karena negara harus memberikan subsidi kepada PT Pertamina Persero sebagai penyalur BBM agar BBM bisa tetap dijual dengan harga rendah di dalam negeri.
Mirza mengatakan kini risiko kenaikkan harga minyak bisa diminimalisasi melalui sistem penyesuaian harga setiap tiga bulan sekali yang dilakukan oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Keuangan serta Pertamina. Harga BBM akan disesuaikan dengan perkembangan harga pasar yang ada.
Mirza menyebut pendorong utama inflasi di Indonesia masih berasal dari volatilitas harga pangan dan tarif listrik. Bank sentral sendiri memproyeksi angka inflasi tahun ini akan berada di kisaran 3-3,2 persen, sementara untuk tahun depan inflasi diperkirakan mencapai 4 plus minus 1.
"Sehingga memang kami melihat itu minimal efek, mungkin ada tapi tidak besar," ujarnya. (gir/gen)