"Tahun ini, ekonomi tumbuh 4,9 persen," ujar Faisal usai menghadiri The Indonesia Economic and Financial Sector Outlook (IEFSO) 2017 di Panti Perwira Balai Sudirman, Senin (5/12).
Pesimisme Faisal dipicu oleh melambatnya pertumbuhan sektor-sektor pengeluaran. Sektor konsumsi rumah tangga yang notabene menjadi sektor penopang terbesar dengan porsi sekitar 56 persen dari total perekonomian juga tercatat melambat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, sebagian belanja dibiayai oleh utang negara yang mendesak (crowding out) dana masyarakat pindah dari sektor perbankan ke kas negara. Hal ini mengakibatkan, kapasitas bank untuk menyalurkan kredit untuk membiayai investasi swasta menjadi terbatas.
Ia megibaratkan, keinginan pemerintah belanja kencang, tetapi membunuh saudaranya sendiri. Padahal, peran belanja pemerintah hanya sembilan persen pada perekonomian.
Di sisi perdagangan internasional, perlambatan perekonomian global membuat sektor ekspor-impor masih mengalami kontraksi.
Dengan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I, II, dan III masing-masing sebesar 4,91, 5,18, dan 5,02 persen, ekonomi kuartal IV diperkirakan Faisal hanya akan tumbuh sebesar 4,49 persen secara tahunan (year on year). Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, ekonomi bisa tumbuh 5,4 persen.
Untuk tahun depan, Faisal meramal ekonomi hanya akan tumbuh 5 persen. Angka ini juga di bawah dari target pemerintah, 5,1 persen. (bir)