Tansaksi ini telah dilakukan pada 1 Desember 2016 dan merupakan bagian dari Program Global Medium Term Notes (GMTN) lndonesia sebesar US$50 miliar. Penerbitan ini merupakan bagian dari kebijakan prefunding sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 1B tahun 2016 tentang APBN Tahun 2017 yakni melakukan penerbitan SUN pada akhir tahun 2016 guna menjamin ketersediaan anggaran pada awal Tahun Anggaran 2017.
"Dengan penerbitan ini kita berhasil secure anggaran di 2017 seandainya penerimaan pajak delay di awal tahun sehingga kebutuhan cash tetap ada. Kedua, dengan penerbitan ini kami tidak mengambil likuiditas domestik yang saat ini tengah diisukan sedang ketat oleh perbankan," ujar Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Robert Pakpahan di Bali, Jumat (9/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yield penerbitan tahun tersebut cenderung turun jika dibandingkan dengan yield global bond yang pernah diterbitkan pemerintah pada periode yang sama tahun lalu. Tahun lalu untuk global bond bertenor 10 tahun yield yang diberikan mencapai 4,80 persen, sementara untuk yang bertenor 30 tahun yield nya diganjar hingga 6,00 persen.
Menurut Robert, transaksi penerbitan kali ini dilakukan pada waktu yang tepat di tengah-tengah ketidakpastian pasar global termasuk adanya kemungkinan peningkatan suku bunga di Amerika Serikat. Dalam orderbook, pemerintah mampu mengumpulkan minat investor yang cukup tinggi khususnya investor global.
Untuk yang bertenor 10 tahun, mayoritas pembeli merupakan investor yang berbasis di Amerika Serikat yakni mencapai 38 persen dari total alokasi. Sementara untuk global bond bertenor 30 tahun mayoritas dibeli oleh investor berbasis Asia di luar Indonesia yang mencapai 58 persen. (gir/gen)