Kepala Departemen Penelitian Ekonomi CSIS Yose Rizal Damuri menyebutkan, hubungan bilateral akan lebih berdampak bagi Indonesia karena masih adanya bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, termasuk dari kerja sama banyak negara atau multilateral.
"Mutilateral itu lebih sulit dilakukan, tuntutannya banyak, keberatannya dari dalam semakin besar sehingga lebih condong kepada hubungan bilateral yang aman," ungkap Yose, Kamis (15/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya Amerika akan memilih partner yang penting saja dibandingkan dengan mengajak kerja sama banyak negara sekaligus. Makanya mereka diperkirakan tak ikut Trans Pacific Partnership (TPP)," imbuh Yose.
Meski diperkirakan tak akan mudah, tapi Indonesia punya potensi tersebut. Pasalnya, beberapa produk ekspor China dengan apa yang Indonesia ekspor memiliki kesamaan.
"Selama ini kita masih takut untuk mnejadi pionir, padahal di Asean kita punya kesempatan yang besar. Terlebih kalau AS tak bisa diharapkan, seharusnya negara seperti Indonesia, India, itu bisa maju jalin kerja sama," jelas Yose.
Sementara itu, setelah bilateral dianggapnya lebih efektif untuk Indonesia meningkatkan neraca perdagangan, multilateral justru perlu dipikirkan lebih matang, misalnya keikutsertaan Indonesia dalam TPP.
"Sebenarnya buat Indonesia tidak buruk juga, misalnya TPP tidak berjalan, artinya Indonesia tidak perlu memilih untuk ikut atau tidak. Sedangkan kalau TPP berjalan, kerugian Indonesia kalau di luar TPP sangat besar, sehingga Indonesia dipaksa ikut TPP," kata Yose.
"Nah, sekarang ini Indonesia punya waktu untuk mempertimbangkan. Tapi jangan punya waktu justru santai-santai. Seharusnya kita persiapkan diri kalau ada tawaran bilateral," tutupnya. (gen)