“Tantangan kita, karena suku bunga eksternal naik, kita di dalam negeri harus bisa menjaga inflasinya," tutur Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityawaswara dalam acara Outlook Perekonomian Indonesia 2017 di Hotel Indonesia Kempinski, Jumat (16/12).
Menurut Mirza, rencana pemerintah memangkas subsidi listrik golongan 900 Volt Ampere (VA) perlu dilakukan dengan hati-hati. Pasalnya, kebijakan itu berpotensi meningkatkan inflasi, terutama di kategori harga yang diatur pemerintah (administered price).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Senada dengan Mirza, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo juga mewaspadai dampak pemangkasan subsidi listrik tahun depan. Bulan lalu, Direktur Eksekutif Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Juda Agung memperkirakan rencana pemerintah menghapus subsidi listrik bagi 18,94 juta pengguna listrik berdaya 900 volt bakal mengerek inflasi 0,95 persen di tahun depan.
Di sisi lain, Perry meyakini cadangan devisa (cadev) cukup kuat untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah di awal tahun depan. Per akhir November lalu, total cadev Indonesia masih tersisa US$ 111,46 miliar. Cadev di akhir tahun diperkirakan akan menebal seiring masuknya dana dari penerbitan obligasi global pemerintah senilai US$3,5 miliar.
“Inflow dari obligasi global akan menyebabkan jumlah cadev naik lagi, maka lebih dari cukup sebagai secondline untuk mengantisipasi perubahan (kondisi) dari sisi eksternal,” ujarnya.
Tak hanya itu, BI juga akan berupaya memperdalam pasar keuangan domestik. Jika pasar keuangan semakin dalam, dampak negatif sentimen global diharapkan bisa diredam.
“Kalau alternatif investasi di aset keuangan di dalam negeri itu lebih bervariasi, lebih banyak, tentu saja akan lebih membuat [investor] kerasan, konsteksnya seperti itu,” ujarnya (gir)