Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Rachmad Hardadi menjelaskan, mitra perusahaan di proyek Cilacap, Saudi Aramco juga sepakat untuk mempercepat pembangunan ini. Dengan durasi konstruksi sepanjang tiga tahun, maka pembangunan RDMP Cilacap harus sudah dimulai di 2018.
"Di rapat terakhir bahwa ada challenge bagi tim untuk mempercepat proyek Cilacap menjadi 2021. Sehingga, kami juga melakukan akselerasi khususnya di konstruksi yang rencananya akan dilakukan di 2019, 2020, dan 2021," ujar Rachmad, Kamis (22/21).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, JV baru terbentuk setelah kedua perusahaan menyelesaikan kelayakan finansial (Bankable Feasibility Study/BFS) dan Basic Engineering Design (BED) yang rencananya juga akan selesai Februari mendatang. Pasalnya, eksekusi proyek ini tergantung dari kaijan kecakapan teknis dan finansial melihat hasil proses BED dan BFS.
Jika rampung, nantinya kapasitas olah kilang Cilacap akan meningkat dari posisi saat ini 348 ribu barel menjadi 400 ribu barel. Namun, karena indeks kompleksitas (Nelson Complexity Index/NCI) meningkat dari 4 menjadi 9,4, maka jumlah produk akhirnya bisa lebih banyak.
Lebih lanjut, sebagai bagian dari JV, bahan baku minyak mentah akan disediakan dari Saudi Aramco di tahun pertama, di mana perusahaan minyak Arab Saudi itu bisa memasok Arab Light Crude hingga 70 persen dari kebutuhan kilang Cilacap.
"Karena jenis minyak itu cocok dengan semua produk yang akan dihasilkan dari kilang Cilacap," ujarnya.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan sanggup untuk memenuhi percepatan RDMP Cilacap. Menurutnya, jika proyek ini cepat selesai, maka perusahaan bisa bergerak cepat untuk menyelesaikan dua RDMP lain dengan Pertamina yaitu kilang Balongan dan Dumai.
"Kami yakin dengan masa depan proyek Cilacap, terutama Indonesia adalah negara yang sangat menjanjikan," ujar Nasser.
Sebagai informasi, kilang Cilacap merupakan proyek bersama di mana Pertamina mengempit 55 persen kepemilikan dan Saudi Aramco memegang sisa 45 persennya. Nilai proyek ini diperkirakan sebesar US$5 miliar. (gen)