Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengungkapkan, peningkatan volume impor beras secara signifikan terjadi pada kuartal I 2016 yang merupakan sisa impor tahun sebelumnya.
"Ini karena sudah kontrak pada 2015 lalu dan karena ada ketentuan denda, jadi tetap diimpor ke Indonesia di awal 2016," ujar Sasmito di kantornya, Kamis (29/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, Juli sebesar 16,34 ribu ton, Agustus sebesar 38,49 ribu ton, September sebesar 17,77 ribu ton, Oktober sebesar 17,2 ribu ton, dan November 33,8 ribu ton.
"Selebihnya, impor beras kita tipis sekali itu, karena memang masih butuh impor beras untuk beberapa restoran yang diimpor dari India, Jepang, dan Timur Tengah," katanya.
Sementara dari sisi nilai, nilai impor beras sepanjang Januari-November 2016 meningkat 109,46 persen atau bertambah US$258,75 juta apabila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor beras selama 2016 mencapai US$495,12 juta dari tahun sebelumnya yang hanya US$258,75 juta.
Ekspor Melesat
Tak mau kalah dengan kinerja impor, aktivitas ekspor beras ke luar negeri sepanjang Januari-November 2016 juga meningkat. Volume ekspor beras naik hingga 138 persen, yakni dari 420 ton menjadi 1.000 ton.
Namun, berdasarkan nilai ekspor, peningkatannya tak signifikan, yakni hanya bertumbuh 50,8 persen apabila dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai ekspor beras capai US$860 ribu sepanjang Januari-November 2016.
"Dari segi ekspor, rupanya secara volume kita meningkat, tapi tak signifikan bila dilihat dari nilai ekspornya. Padahal, harga beras internasional relatif stabil," imbuh Sasmito. (bir)