Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengungkapkan, impor jagung sepanjang Januari-November 2016 hanya sebesar 0,9 juta ton. Padahal, impor jagung tahun sebelumnya mencapai 3,27 juta ton.
"Dari September dan Oktober jumlah impor jagung menurun. Bahkan, pada November lalu hampir tidak ada impor jagung. Hal ini karena adanya kecukupan di dalam negeri," ungkap Sasmito, dikutip Jumat (30/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BPS juga mencatat bahwa penurunan impor jagung di tahun ini merupakan yang terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Pada 2012, impor jagung mencapai 1,69 juta ton, 2013 sebesar 3,19 juta ton, 2014 sebesar 3,25 juta ton, dan 2015 sebesar 3,27 juta ton.
Hal ini tercermin dari nilai ekspor jagung sebesar US$4,75 juta sepanjang Januari-November 2016. Sementara, nilai impor jagung mencapai US$179,86 juta, sehingga defisit tak terelakkan.
Sedangkan dari sisi ekspor, volume ekspor jagung sepanjang Januari-November 2016 hanya sebesar 14,9 ribu ton. Jumlah ini menurun drastis bila dibandingkan tahun lalu sebesar 234,6 ribu ton.
"Ekspor kita berkurang karena kebutuhan dalam negeri meningkat, sehingga tak banyak hasil produksi yang diekspor ke luar," jelas Sasmito.
Hal ini sejalan dengan nilai ekspor jagung tahun 2016 yang merosot hingga 290,98 persen, yakni dari tahun 2015 sebesar US$56,37 juta menjadi hanya US$4,75 juta. (bir/gen)