Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Jusuf Kalla menyatakan, kondisi ini tak terlepas dari kondisi ekonomi global yang masih belum sepenuhnya membaik. Tentunya, perekonomian Indonesia juga dipengaruhi oleh ekonomi global, sehingga pasar modal Indonesia pun ikut terpengaruh.
"Ini situasi dunia yang tidak terhindarkan, masa hijau mulu, akan ada masanya merah juga," ungkap Jusuf Kalla saat membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Selasa (3/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini saya lihat merah semua, makanya saya harapkan ayo dong bikin hijau. Ayo," ujar Sri Mulyani.
Sebelumnya, Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menjelaskan, IHSG belum memiliki sentimen positif yang dapat mendongkrak laju IHSG secara alami. Menurut Alfred, penguatan IHSG pada pekan lalu hanya dipengaruhi oleh aksi window dressing yang dilakukan oleh beberapa pihak yang berkepentingan seperti perusahaan manajer investasi, emiten, perusahaan asuransi, dan dana pensiun (Dapen).
Sementara, beberapa pihak tersebut tak lagi memiliki kepentingan untuk melakukan window dressing karena window dressing hanya dilakukan untuk memperindah portofolio investasi pada akhir tahun. Selain itu, suasana libur akhir tahun juga masih kental pada pekan ini sehingga membuat jumlah transaksi akan menurun karena sepinya aksi beli.
Menurut Alfred, IHSG akan terkena teknikal koreksi karena kemungkinan besar sebagian pelaku pasar akan melakukan aksi ambil untung (profit taking) karena IHSG telah menguat pada pekan lalu. Alfred memprediksi IHSG berada dalam rentang support 5.310 dan resisten 5.280.
“Sentimen tipis sekali, IHSG akan terkena teknikal koreksi karena pekan kemarin sudah positif, kalau pun bergerak bervariasi tapi kecenderungannya koreksi,” ucap Alfred. (gir)