Seperti dilansir dari kantor berita Antara, Nurlia (45), seorang pedagang Pasar Waisai Raja Ampat, Sorong, mengaku menawarkan satu kilogram cabai rawit seharga Rp200 ribu. Harga itu melompat 333,33 persen atau Rp140 ribu dari harga sebelumnya Rp60 ribu per kilogram.
Nurlia mengaku, harga cabai rawit dari tingkat agen di Kota Sorong sudah naik tak ada pilihan juga menaikkan harga penjualan kepada konsumen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, kondisi tersebut berbeda dengan harga tomat yang tidak ada kenaikan Rp30 ribu per kilogram pada tingkat agen maupun petani. Pasalnya, stok tomat terpantau melimpah di pasar.
"Meskipun harga cabai tinggi, tetapi tidak mengurangi minat masyarakat untuk membeli," katanya.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mempertimbangkan opsi impor cabai mengatasi persoalan harga yang meroket karena kendala distribusi. Opsi ini terbuka, dengan catatan upaya yang tengah dilakukan pemerintah saat ini tidak membuahkan hasil.
"Impor, mungkin. Tetapi, kami mau pastikan dulu ketersediaan pasokan cabai ini. Kalau masih bisa upayakan dalam negeri, tentu kami tidak mau impor," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurman kepada CNNIndonesia.com, Kamis (5/1).
Saat ini, Kemendag telah mengerahkan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) untuk menjadi motor penggerak distribusi cabai dari beberapa sentra produksi ke berbagai daerah yang mengalami kenaikan harga cabai.
Pemerintah, sambung Oke, merasa perlu mengintervensi memuluskan jalur distribusi, mengingat komoditas cabai menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam mengerek laju inflasi.
Berdasarkan data BPS Desember 2016 lalu, komoditas cabai merah menjadi komoditas pangan di urutan pertama, dan memiliki andil sebesar 0,35 persen terhadap inflasi. Diikuti dengan bawang merah 0,17 persen, bawang putih 0,11 persen, dan ikan segar 0,09 persen. (antara/gir)