"Apakah mungkin dari 200 juta lebih rakyat Indonesia, tidak ada yang memiliki kompetensi dan kapabilitas yang memadai untuk memimpin BUMN? Saat ini, banyak putra-putri kita yang memiliki karir cemerlang di luar negeri. Kenapa pemerintah tidak menarik mereka pulang saja, daripada harus mendatangkan orang asing?" tegasnya, Kamis, (12/1).
Wacana tersebut terbilang berbanding terbalik dengan kondisi saat ini, di mana banyak warga Indonesia yang menempati posisi penting di beberapa perusahaan multinasional. Dorongan menjadikan bule sebagai pimpinan perusahaan pelat merah malah dinilai tak konsisten dalam membangun kualitas putra dan putri bangsa ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Menurut Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menyatakan dukungannya terkait keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menginginkan Indonesia berkaca dari Dubai yang kebanyakan dipimpin oleh warga asal Eropa.
Luhut juga menyebut, wacana ini tidak akan menghilangkan rasa nasionalisme terhadap bangsa, sehingga tidak perlu diributkan. Ia mencontohkan, pada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI ) yang seringkali memilih pelatih dari luar negeri agar dapat melatih pemain sepak bola Indonesia lebih baik lagi.
"PSSI semua enggak ada yang ribut tuh. Malah bilang, carilah pelatih yang paling terkenal dari Eropa,” ucap Luhut beberapa waktu lalu.
Menanggapi hal ini, Teguh bilang, contoh tersebut tidak relevan dengan posisi direktur utama di perusahaan BUMN. Anggota DPR dari Partai Amanat Nasional menyatakan ada banyak tanggungjawab bagi seorang direktur utama, khususnya untuk BUMN lantaran berkaitan dengan menjaga stabilitas perekonomian.
Selain itu, pemimpin perusahaan BUMN juga perlu menjaga rahasia negara, terutama perusahaan BUMN yang bergerak dalam sektor bisnis minerba dan telekomunikasi.
"Perbandingan tersebut tidak apple to apple. Bagaimana mungkin BUMN yang memiliki peranan sangat penting dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional dan menyimpan rahasia negara disamakan dengan timnas sepak bola?" imbuh Teguh.
Lebih lanjut ia menuturkan, seharusnya, rasa nasionalisme tidak hanya diperingati pada hari kemerdekaan saja. Melainkan, juga diseimbangkan dengan berbagai kebijakan yang berpihak pada anak bangsa sendiri.