Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam mengatakan, saat ini sudah dilakukan pembicaraan informal dengan beberapa perusahaan migas untuk menjadi anggota konsorsium. Sayangnya, ia enggan menyebut perusahaan-perusahaan yang berminat bergabung dengan konsorsium tersebut.
"Jika nanti perkembangannya ada yang mau join ya why not? Pemerintah kan telah menugaskan Pertamina cari konsorsium," jelas Syamsu, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syamsu mengatakan, konsorsium masih mencari mitra dan merancang konsep pengembangan blok East Natuna. Sejauh ini, konsorsium sepakat untuk mengembangkan minyak terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan produksi gas.
"Kami tidak hanya bicara sampai konsep pengembangannya, tapi juga siapa buyer-nya, bagaimana aspek komersialnya. Kami sudah investasi, spend banyak uang lalu kalau gasnya tidak ada yang beli kan jadi banyak yang dirugikan," ucap Syamsu.
Tadinya, konsorsium berharap kajian TMR ini bisa dipercepat dari target semula, yaitu 2018. Namun melihat kajian yang tidak gampang, konsorsium rencananya memutuskan untuk mengembalikan ke target awal.
Maka dari itu, ia berharap penandatanganan kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC) tidak dilakukan secara tergesa-gesa.
Sebagai informasi, penandatanganan PSC East Natuna pada awalnya akan ditandangani pada bulan September. Namun, hal ini tidak jadi dilakukan karena Kementerian ESDM menganggap Pertamina belum siap.
Setelah itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, seharusnya penandatangan PSC East Natuna dilakukan 14 November lalu. Namun karena kajian belum rampung, maka penandatanganan PSC sedianya bisa dilakukan di tahun ini.
Menurut data Kementerian ESDM, blok East Natuna memiliki volume gas di tempat (Initial Gas in Place/IGIP) sebesar 222 triliun kaki kubik (tcf), dan cadangan terbukti sebesar 46 tcf.