Jokowi mengatakan, berdasarkan data yang dipegang, sebanyak 65 persen gas bersubsidi diterima oleh masyarakat mampu. Padahal, seharusnya subsidi elpiji 3 kg hanya dinikmati rakyat kecil dan kurang mampu.
"Saya tidak tahu angkanya. Tapi menurut saya, kalau itu barangnya sama, dijual di pasar, anda boleh beli, ini enggak boleh beli kan tidak mudah, itu saja," kata Jonan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (13/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mestinya semua bisa beli, tapi yang enggak mampu apakah dikasih subsidi langsung, gitu loh misalnya, tapi belum diputuskan," tutur mantan Menteri Perhubungan ini.
Selain elpiji, Jokowi juga menuturkan, penyaluran subsidi listrik tak tepat sasaran. Keluarga mampu masih menikmati listrik 900 VA. Kepala PLN Sofyan Basir mengatakan, jajarannya telah mengevaluasi hal itu sejak delapan bulan lalu.
TNP2K mencatat kepala keluarga miskin di Indonesia sebanyak 15,7 juta. Sementara itu, PLN selama ini mensubsidi 46 juta kepala keluarga.
"Berarti kan salah. Jauh dari kebijakan pemerintah, kami takut salah," kata Sofyan.
Ia mengatakan telah menyewa puluhan ribu orang untuk mensurvei keadaan. Hal itu dilakukan demi memperbaiki kesalahan penyaluran subsidi selama ini.
"Jangan sampai kami disalahkan BPKP merugikan negara memberikan subsidi bukan ke yang tepat," tegasnya.