Senior Vice President Integated Supply Chain (ISC) Pertamina Daniel Purba menerangkan, impor elpiji dari AS tersebut rencananya akan mengganti pasokan elpiji impor yang selama ini didominasi dari negara-negara Timur Tengah.
Apalagi, harga elpiji dari AS menggunakan indeks Mont Belvieu, di mana harganya bisa lebih murah jika dibandingkan dengan elpiji asal Timur Tengah yang mengambil indeks Saudi Aramco.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tak bisa perkirakan besaran elpiji AS. Yang pasti, dari sisi persentase, impor Timur Tengah mengecil diganti dari AS. Besarnya berapa, nanti bergantung pasar saja," imbuh Daniel.
Ia melanjutkan, impor elpiji dari AS merupakan antisipasi perusahaan atas melonjaknya kebutuhan elpiji impor. Tahun ini, elpiji impor diperkirakan mengambil 70 persen dari suplai elpiji Pertamina. Angka itu melonjak dibandingkan tahun lalu, yaitu 65 persen.
Jika tidak ada aral melintang, sebanyak 30 persen suplai elpiji akan dihasilkan dari dalam negeri, utamanya dari kilang elpiji di Bontang.
"Nantinya, 90 persen elpiji impor diturunkan sekaligus dan 10 persen diturunkan secara bulanan. Ini kami lakukan demi mengantisipasi fluktuasi produksi dalam negeri, yang utamanya berasal dari Bontang," katanya.
Menurut data Pertamina, konsumsi elpiji Indonesia pada tahun 2016 tercatat 7 juta metrik ton per tahun. Angka ini meningkat 700 persen dalam 10 tahun terakhir, di mana konsumsi elpiji tahun 2007 sebesar 1 juta metrik ton.