"Akhir Februari ini (pinjaman cair), karena kita akan selesaikan semua. Modal sudah masuk kan, mereka masukin modal," kata Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno dikutip dari detikcom, Jumat (20/1).
Rini menjelaskan, China memiliki porsi 40 persen dalam proyek tersebut. Sementara sisanya digenggam pihak Indonesia 60 persen. Kedua belah pihak sudah mulai memasukkan modal ke perusahaan patungan, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk membangun hingga mengoperasikan kereta cepat tersebut, kebutuhan dana mencapai US$5,5 miliar atau setara Rp73,7 triliun ( asumsi kurs Rp 13.400 per dolar AS).
Dari kebutuhan dana proyek US$ 5,5 miliar, KCIC berkontribusi 25 persen atau setara US$1,375 miliar yang bersumber dari setoran PSBI 15 persen dan CRI 10 persen. Modal yang disuntikkan oleh induk KCIC akan dilakukan secara bertahap.
Sisanya, kebutuhan dana sebanyak 75 perseb atau setara US$4,125 miliar (Rp55,2 triliun) akan ditutup oleh pinjaman China Development Bank.
Kedua pihak berangkat ke Beijing untuk bertemu dengan lembaga keuangan yang memberikan pinjaman, yaitu China Development Bank.
"Memang agak lama prosesnya, karena Bank Sentral China memberi pengecualian bagi Indonesia untuk bekerja sama dengan CDB," ungkap Direktur Keuangan Wijaya Karya Steve Kosasih, Kamis (22/12).