"Indonesia sudah melewati bottom dari pertumbuhan ekonomi di tahun 2015 yang dimana hanya tumbuh 4,8 persen, kalau kita lihat tren tahun 2017 nampaknya akan pick up, tapi mungkin akan kecil atau sedikit," ujar Chief Economist Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy dalam media briefing di Menara Mandiri Bapindo, Rabu (1/2).
Ia mengatakan, prediksi yang moderat tersebut didasari oleh beberapa hal, salah satunya yakni potensi pelemahan konsumsi masyarakat. Konsumsi masyarakat yang selama ini memiliki kontribusi hingga 53 persen dari total PDB Indonesia diperkirakan tergerus akibat kenaikan inflasi barang dan jasa yang tahun ini diperkirakan akan mencapai 4,2 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kemungkinan besar daya beli masyarakat di tahun 2017 tidak lebih baik dibandingkan dari tahun 2016," jelasnya.
"Pemerintah telah merealisasikan tax amnestty, tapi langkah itu belum selesai, proses selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan kepatuhan pajak dengan bekal basis pajak, perlu adanya tax reform (reformasi pajak) dan harus diterapkan cukup signifikan agar bisa men-generate tax revenue," jelasnya.
'Namun perlu digaris bawahi potensi shortfall tahun ini lebih kecil dari 2016 dan 2015, risiko fiskal lebih rendah dari dua tahun lalu," pungkasnya. (gir/gen)