Mengutip laporan resmi perusahaan, anjloknya nilai penjualan tahun lalu disebabkan oleh volume penjualan emas. Tercatat, volume penjualan emas Antam pada tahun lalu sebesar 10.227 kilogram (kg) atau menurun 27,87 persen dibanding penjualan 2015 sebesar 14.179 kg.
Akibatnya, pendapatan dari penjualan emas turun dari posisi Rp7,31 triliun pada 2015 ke angka Rp5,54 triliun di tahun kemarin. Hal ini berimbas signifikan kepada total pendapatan mengingat sebagian besar pendapatan Antam dihasilkan dari penjualan emas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Emas merupakan penyumbang tertinggi dengan angka 61 persen dari total penjualan yang belum diaudit sepanjang tahun 2016," ujar Sekretaris Perusahaan Antam, Trenggono Sulistio melalui laporan resmi, dikutip Rabu (1/2).
"Antam juga berencana untuk menjajaki pasar ekspor menjanjikan seperti Asia dan Afrika," terangnya.
Beruntungnya, Antam berhasil menahan penurunan pendapatan dari berjualan emas dengan mencatat peningkatan penjualan komoditas lainnya. Volume penjualan feronikel Antam tercatat meningkat 12,04 persen, perak naik 38,82 persen, sedangkan penjualan bauksit bertambah 59,11 persen.
Bahkan, volume penjualan ore nikel melonjak tajam 1.471 persen menjadi 734,88 ribu wet metric ton (wmt) dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 46.751 wmt. Perusahaan mengatakan, sebagian besar penjualan ini ditujukan bagi bahan baku smelter yang dioperasikan oleh pihak ketiga.
Hasilnya, Antam membukukan pendapatan penjualan nikel ore sebesar Rp295 miliar, atau melesat dari posisi tahun sebelumnya Rp10,91 miliar. Setidaknya, kontribusi ore nikel ini bisa menahan penurunan pendapatan perusahaan gara-gara anjloknya penjualan emas. (gen)