Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, penurunan atau peningkatan rasio gini biasanya sejalan dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
"Jadi jika dalam 1-2 tahun terakhir rasio gini menurun, belum tentu disebabkan oleh hasil pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir juga mengalami perlambatan.
Pertanyaannya apakah penurunan ini berkesinambungan?" katanya dalam keterangan resmi, Jumat (3/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun beberapa tahun kemudian saat ekonomi tumbuh hingga di atas 6 persen, rasio gini juga merangkak naik mencapai 0,41 (tahun 2011-2015).
Ia menambahkan, apabila dilihat dari perubahan distribusi penduduk menurut golongan pengeluaran, ternyata penyempitan ketimpangan lebih banyak didorong oleh penurunan 20 persen golongan berpengeluaran tertinggi.
Pada September 2015, 20 persen golongan berpengeluaran tertinggi mencapai 47,85 persen dari total pengeluaran penduduk. Namun pada September 2016 turun 1,29 persen menjadi 46,56 persen.
Sementara 40 persen golongan berpengeluaran terendah hanya berkurang 0,34 persen, dari 17,45 persen pada September 2015 menjadi 17,11 persen pada September 2016.
"Dengan kata lain, kelompok masyarakat ekonomi lemah sebenarnya belum terlalu banyak berubah kesejahteraannya, hanya golongan kaya yang lebih banyak menurun pengeluarannya," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai aktivitas ekspor-impor sendiri dalam beberapa tahun terakhir mengalami perlambatan yang lebih dalam dibandingkan melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia secara umum.
"Artinya, perbaikan rasio gini juga belum menunjukkan perbaikan pemerataan kesejahteraan yang ideal, yaitu meningkatnya kesejahteraan masyarakat golongan bawah, sehingga masuk ke kategori menengah," tukasnya.