Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Prasetyo Boeditjahjono mengatakan, hingga saat ini pemerintah masih menunggu hasil perhitungan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati selaku pengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk melihat kemampuan APBN dalam membiayai kedua proyek LRT tersebut.
"Yang jelas, sampai sekarang masih dengan APBN karena Peraturan Presiden berbunyi seperti itu. Yang mengerti kemampuan APBN itu Ibu Menkeu Sri Mulyani," ujar Prasetyo usai rapat terbatas di Istana Negara, Senin (6/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut hasil rapat terakhir, lanjut Prasetyo, pemerintah hanya mampu membiayai salah satu pembangunan LRT, yakni LRT Palembang yang membutuhkan pendanaan sekitar Rp12 triliun.
Sementara untuk LRT Jabodebek yang memiliki panjang 43 kilometer, pemerintah membutuhkan pendanaan total sekitar Rp22,5 triliun. Sedangkan untuk tahap awal pembangunan diperlukan Rp7 triliun. Namun, pemerintah hanya mampu menggelontorkan Rp1 triliun untuk pembiayaan tahap awal.
Oleh karenanya, pemerintah masih mempertimbangkan sumber-sumber pendanaan yang bisa didapat melalui berbagai skema pembiayaan, termasuk memanfaatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) yang dimiliki PT Adhi Karya (Persero) Tbk selaku konstruktor LRT Jabodebek.
"Adhi Karya sempat mendapat PMN Rp1,4 triliun. Kalau PMN berarti harus berupa investasi, tidak untuk modal kerja," imbuh Prasetyo.
Kemudian, untuk penyediaan kereta api untuk LRT Palembang akan diserahkan pada PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA. Sedangkan LRT Jabodebek disiapkan oleh PT Kereta Api Indoensia (Persero) melalui proses tender.
"Sedangkan pembebasan lahan relatif tidak ada masalah," tegas Budi pada kesempatan yang sama. (gir)