Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan, tender ini sebagian besar dimulai pada bulan Februari. Ia berharap sebagian lelang bisa dirampungkan pada kuartal I 2017, atau paling lambat semester I 2017.
"Lelang termasuk EPC sekitar 14 ribu hingga 15 ribu MW, Februari sekarang dibuka. Paling lambat semester I ini selesai semua," ujar Iwan, Selasa malam (7/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari jumlah tersebut, sebanyak 6 ribu MW merupakan lelang bagi IPP dan sisa 4 ribu MW adalah lelang EPC bagi pembangkit PLN. Meski tidak merinci nama proyeknya, sebagian besar calon proyek tersebut tersebar di luar Jawa.
Banyaknya lelang carry over ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah belum adanya peraturan harga batubara bagi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang.
Untungnya, kepastian itu tertuang di dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 24 Tahun 2016. Namun, karena beleidnya terbit di akhir tahun, PLN belum mempersiapkan tendernya kembali.
"Di samping itu, pada tahun lalu juga terdapat kendala di tata ruang, karena tata ruang PLN dan daerah harus sinkron. Karena kalau sudah tender menang, itu sulit. Selain itu juga ada keterlambatan internal kami, tapi kami yakin ini masih bisa dijaga," jelasnya.
Meski ada beberapa paket yang belum dilelang, PLN yakin target operasional pembangkit ini tak akan berubah. "Kebanyakan yang PLN bangun itu adalah pembangkit skala kecil, sehingga kalau masuk program 35 ribu MW, harusnya bisa selesai 2019," pungkas Iwan.
Sebanyak 5.991 MW, atau 34,53 persen dari total pembangkit yang belum memasuki masa kontrak atau PPA, merupakan jatah PLN. Sementara itu, PLN dan IPP belum menandatangani PPA dengan kapasitas sebesar 11.359 MW. (gir)