Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan, seluruh PPA ini nantinya akan menggunakan klausul baru yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 10 Tahun 2016.
Sehingga, pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) sudah bisa dikenakan denda delivery or pay jika masa operasionalnya (Commercial Operating Date/COD) mundur dari jadwal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia yakin jika semua PPA yang dijalankan nantinya akan berlanjut ke tahap kewajiban pembiayaan (financial closing). Ia beralasan, denda delivery or pay ini bisa menyeleksi IPP yang memang berkompeten untuk membangun pembangkit listrik yang telah dilelang.
"Jika IPP tak melaksanakan tugasnya, kami harus menggantinya dengan pembangkit pengganti. Selama ini kan dananya ditanggung PLN, kalau IPP yang dikenakan denda kan seimbang," jelasnya.
Kendati demikian, ia menyebut bahwa perusahaan belum merumuskan jenis insentif yang akan didapat IPP jika PLN meminta waktu COD yang lebih cepat. Sehingga, PLN masih belum menerima usulan pemerintah, di mana tarif pembelian listrik per Kilowatt-Hour (KWh) akan dinaikkan antara jadwal COD yang diinginkan PLN dengan jadwal seharusnya.
Namun menurutnya, IPP seharusnya bisa lebih untung jika memajukan jadwal operasionalnya. Pasalnya, pendapatan yang diterima akan lebih cepat, sehingga pengembalian investasi IPP akan lebih bagus.
Sebagai informasi, pemerintah baru menerapkan klausul PPA baru di dalam Permen ESDM Nomor 10 Tahun 2017. Di dalam beleid tersebut, IPP akan dikenakan denda jika realisasi pembangkitnya mundur dari jadwal atau volume penyaluran listriknya tak sesuai dengan PPA. (gir)