Gubernur BI Agus D.W Martowardojo mengatakan, posisi surplus tersebut akhirnya tercapai setelah Indonesia mengalami defisit US$1 miliar pada tahun 2015. Tahun 2015, NPI mengalami tekanan di tengah dinamika perkembangan ekonomi global dan domestik.
Tekanan terhadap kinerja NPI tersebut bersumber dari penurunan surplus transaksi modal dan finansial yang tidak dapat sepenuhnya membiayai defisit transaksi berjalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agus, posisi tersebut merupakan rekor, setelah selama delapan kuartal Indonesia selalu mengalami defisit transaksi berjalan di akhir tahun. Sepanjang tahun lalu (full year), CAD Indonesia berada di kisaran 1,8 persen terhadap PDB.
"Jadi ini kita sambut baik, dan ini didukung oleh kuatnya dana masuk di transakasi financial account kita," ujar Agus di sela acara Mandiri Investment Forum 2017, Rabu (8/2).
Sekadar informasi, transaksi berjalan memuat pembayaran dan penerimaan yang ditimbulkan dari aktivitas ekspor-impor barang dan juga jasa. Neraca ini terbagi atas dua komponen yakni neraca perdagangan untuk barang dan juga neraca jasa.
Jika neraca transaksi berjalan mengalami defisit, maka artinya biaya yang harus dibayarkan untuk impor baik barang ataupun jasa lebih tinggi dibanding nilai yang diterima dari ekspor.
"Itu membuat CAD kita yan tadinya 1,8 persen mungkin akan naik jadi 2,4 persen dari PDB, Tapi secara umum masih akan di bawah 2,5 persen dari PDB," pungkasnya. (gir/gen)