Direktur Utama Jasa Raharja Budi Setyarso mengatakan, pada tahun lalu jumlah pemasukan iuran cenderung tak meningkat karena perusahaan tak meningkatkan biaya iuran bagi tiap penumpang transportasi umum dan pungutan pajak kendaraan bermotor.
Sementara di tahun ini, perusahaan berharap pemasukan iuran dapat terkerek pertumbuhan kendaraan bermotor yang diprediksi juga meningkat 6 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hitungan Jasa Raharja, jumlah pemasukan iuran diproyeksi naik 6 persen dari jumlah pemasukan di tahun lalu sebesar Rp5,4 triliun sehingga target pemasukan iuran dibidik mencapai Rp5,724 triliun.
Aturan tersebut, yakni Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 15/PMK.010/2017 tentang Besar Santunan dan Iuran Wajib Dana Pertangungan Wajib Kecelakaan Penumpang Alat Angkutan Penumpang Umum di Darat, Sungai/Danau, Feri/Penyeberangan, Laut, dan Udara dan PMK 16/PMK. 010/2017 tentang Besar Santunan dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas JalanKedua PMK tersebut di atas merupakan penyesuaian dari PMK Nomor 37/PMK.010/2008 dan PMK Nomor 36/PM.010/2008.
Selain mengandalkan pemasukan iuran yang diprediksi bisa meningkat di tahun ini, Jasa Raharja juga telah menyiapkan cadangan dana untuk sumbangan dan santunan sebesar Rp4 triliun setiap tahunnya. Kemudian, perusahaan juga masih memiliki ketersediaan aset yang di tahun lalu mencapai Rp12,3 triliun.
Sebagai informasi, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) diperkirakan tahun ini jumlah penjualan kendaraan bermotor meningkat sekitar 4 persen dari 1,06 juta unit di tahun lalu menjadi 1,1 juta unit di tahun ini. (gir)