Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan, mempertahankan produksi di angka 800 ribu barel per hari merupakan langkah optimal yang bisa dilakukan melihat karakteristik Wilayah Kerja (WK) migas di Indonesia yang merupakan lapangan tua. Apalagi, bisnis migas memiliki karakteristik yang terus menurun tiap tahunnya.
Menurut Arcandra, angka rata-rata penurunan produksi alami (natural declining rate) lapangan migas di Indonesia pada tahun lalu tercatat sebesar 20,1 persen. Sementara itu, angka natural declining rate tahun 2015 tercatat 29,7 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menuturkan, pemerintah sebetulnya ingin agar produksi minyak naik terus. Namun, pada saat ini, periode antara eksplorasi hingga produksi minyak pertama semakin lama.
Ia beralasan, lamanya periode tersebut dikarenakan penyusunan rencana pengembangan lapangan migas yang menyita waktu. Ia mencontohkan, izin pengeboran minyak di Amerika Serikat bisa memakan waktu dua pekan. Namun, izin pengembangan lapangan migas di dalam negeri bisa bertahun-tahun.
"Melihat angka itu, apakah dengan target lima tahun mendatang kita bisa berharap dari produksi lapangan baru? Sehingga, yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan lapangan-lapangan migas yang ada (existing)," katanya.
Untuk itu, pemerintah tengah menyusun program jangka menengah (short term program) agar produksi lapangan migas existing tidak turun. Program ini dilakukan dengan tiga tahap, yaitu mengidentifikasi teknologi yang diperlukan, lokakarya ke Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), dan menyocokkan teknologi dengan eksekusinya.
"Karena kalau tidak dibuat program ini, produksi minyak Indonesia bisa di bawah 600 ribu pada tahun 2020 mendatang," lanjutnya.
Sebagai informasi, produksi minyak pada tahun lalu tercatat 831 ribu barel per hari dan gas sebesar 7.939 MMSCFD. Angka ini lebih besar dibanding target Work Program and Budget SKK Migas masing-masing sebesar 817,5 ribu barel per hari dan 7.813 MMSCFD.