Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan suplai minyak bisa meredam dampak yang diinginkan organisasi negara-negara pengekspor minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) yang memangkas produksi.
Dikutip dari Reuters, sebuah sumber mengatakan bahwa tingkat kepatuhan anggota OPEC dan beberapa non-OPEC terhadap kebijakan pembatasan produksi mencapai 86 persen pada bulan Januari silam. Sebelumnya, sumber lain mengatakan, tingkat kepatuhan malah sempat mencapai 90 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data Energy Information Administration (EIA) AS menunjukkan, persediaan minyak AS meningkat 564 ribu barel pada pekan lalu. Ini merupakan peningkatan suplai selama tujuh pekan berturut-turut.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, harga minyak Brent tetap naik US$0,74 ke angka US$56,58 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menanjak US$0,86 ke angka UD$54,45 per barel.
Sebagai informasi, OPEC and produsen minyak lain termasuk Rusia sepakat memangkas produksi sebesar 1,8 juta barel per hari mulai awal tahun ini demi mendongkrak kembali harga minyak. (gir)