"Ya, bisa jadi begitu. Bisa jadi juga orang lain membeli sahamnya. Kami tidak tahu juga, karena ada opsi-opsi lain," katanya, seperti dilansir Antara, Senin (27/2).
Jika tidak ada aral melintang, Luhut akan mengadakan pertemuan dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) Senin siang. Tetapi, ia tidak merinci apakah Inalum tengah dipersiapkan untuk membeli saham perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) yang tengah bersitegang dengan pemerintah tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luhut juga mengaku masih akan melihat pilihan terbaik untuk melakukan pembelian divestasi saham. Yang pasti, ia memastikan, harus ada pembicaraan baik-baik dengan Freeport. Di sisi lain, kepentingan nasional Indonesia juga tidak boleh dikorbankan.
"Sekarang, kami bentuk holdingnya dulu, karena memang belum ada arahan dari pemerintah arahnya ke mana," terang dia.
Yang jelas, Kementerian BUMN akan menampung 9,36 persen saham existing pemerintah di Freeport.
"Kami sudah dapat persetujuan Freeport. Ke depan, kami tunggu dari pemerintah karena itu memang wewenangnya Kementerian ESDM," imbuhnya.
Budi juga mengaku, pemerintah akan melakukan segala upaya untuk membeli 10,64 persen saham Freeport. Menurutnya, pemerintah nantinya bisa saja tidak 100 persen menanggung secara finansial.
"Bisa saja kan join venture (usaha patungan) juga dengan mereka atau dengan yang juga bisa. Terbuka banyak opsi. Kalau kemampuan finansial dan operasionalnya bisa," tutur Budi.
Sekadar informasi, Inalum akan menjadi induk holding pertambangan yang terdiri dari Aneka Tambang (Persero) Tbk, Bukit Asam (Persero) Tbk, serta Timah (Persero) Tbk, yang ditargetkan rampung tahun ini. (bir/gen)