Komitmen ini datang dari diskusi dalam klub EBT, di mana klub tersebut bertujuan untuk menghimpun perusahaan-perusahaan Perancis yang bergerak dalam sektor energi yang sudah ada di Indonesia, maupun mereka yang telah menyatakan kesediaannya untuk berinvestasi di Indonesia.
"Saya menyambut baik ambisi pak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan untuk mencapai target 23 persen energi baru dan terbarukan dalam bauran energi listrik Indonesia pada 2025 mendatang," ujar Ayrault, Selasa (28/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jonan pesimis, Kementerian ESDM mampu merealisasikan target pemerintah mencapai bauran energi sebesar 23 persen dalam delapan tahun ke depan. "Jujur itu tidak akan sampai, tetapi paling tidak kami dapat mencapai sekitar 20 persen," terang Jonan.
Dengan demikian, energi terbarukan dinilai dapat menjadi solusi dari kesenjangan ini. Misalnya saja, seperti di Sumatra Selatan yang memiliki simpanan batu bara yang begitu besar, maka pemerintah mendorong untuk memiliki pembangkit listrik mulut tambang batu bara yang dapat menghasilkan 5 sen per kWh.
Untuk diketahui, dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik berisi aturan harga pembelian maksimum tenaga listrik oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero).
Tenaga listrik tersebut yang dihasilkan oleh energi terbarukan, seperti tenaga matahari, angin, air, biomassa, biogas, sampah, dan panas bumi.
Adapun, tujuan dari aturan tersebut agar penyediaan listrik yang berasal dari EBT dapat semurah mungkin, sehingga tarif listrik yang diberikan untuk masyarakat bisa lebih murah. (bir/gen)