Optimisme ini bukan isapan jempol, mengingat sejumlah data dan rencana yang sudah dirancang oleh pemerintah bersama dengan bank sentral untuk mengontrol laju inflasi dari sisi komponen gejolak harga pangan (volatile foods).
"Kami punya data yang baik, kami bisa eksekusi rencana-rencana bagaimana peningkatan produksi dan melancarkan distribusi, seharusnya bisa," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Graha CIMB Niaga, Senayan, Jumat (3/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, Mirza belum ingin berbagi secara rinsi mengenai skema pengendalian volatile foods. Ia menekankan, dalam kerja sama ini, pemerintah daerah lah yang akan lebih banyak mengambil peran.
Dari sisi tingkat harga yang diatur oleh pemerintah (administered price), Mirza melihat bahwa kontribusi dari komponen ini memang tak terelakkan jika mengerek inflasi. Ia yakin, dengan pengaturan kenaikan administered price, seperti tarif dasar listrik (TDL) untuk kapasitas listrik 900 volt ampere (VA) yang diterapkan bertahap, laju inflasi tetap bisa dikendalikan.
Belum lagi, ada penekan kontribusi volatile foods oleh pemerintah dan BI. "Jadi, kalau inflasi administered price naik tapi volatile foods bisa ditekan, atau bahkan deflasi, sangat mungkin inflasi bisa kami jaga di level sekitar empat persen," terangnya.
Terkait inflasi Maret, Mirza memproyeksi, BI masih memperlukan waktu, setidaknya sampai satu minggu pertama bulan ini untuk melihat hasil survei biaya hidup yang dikeluarkan BI. "Jadi, mungkin baru minggu depan kita bisa lihat," imbuh Mirza.
Inflasi Menantang
Pun demikian, inflasi tahun ini memang menjadi indikator yang paling menantang bagi pemerintah. Pasalnya, berkaca pada laju inflasi sepanjang tahun lalu yang sebesar 3,02 persen merupakan laju inflasi yang paling stabil dalam beberapa tahun terakhir. Hanya saja, sentimen yang memengaruhi inflasi memang tidak banyak.
"Tahun lalu, tidak ada administered price dan harga minyak internasional rendah. Sedangkan, sekarang harga internasionalnya lebih tinggi dan juga ada kenaikan harga listrik dan mungkin kenaikan harga minyak internasional akan juga memengaruhi harga BBM juga," tutur Mirza.
"Toh, negara lain bisa kok mengendalikan inflasi pangan, Thailand bisa, Filipina bisa. Kenapa Indonesia tidak bisa?" pungkasnya. (bir/gen)