Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro menjelaskan, dari total sembilan perusahaan itu juga ada yang berstatus cucu usaha. Kementerian BUMN memperkirakan Rp21 triliun bakal diperoleh dari hajatan IPO tersebut.
"Kalau dilihat, ini total IPO bisa Rp19 triliun-Rp21 triliun," ucap Aloysius, dikutip Senin (6/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak Pelindo II itu dianggap siap dan tinggal persetujuan menteri," terang dia.
Bila mengacu pada ciri-ciri yang disebut Aloysius, maka boleh jadi anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) salah satunya.
Direktur Utama Wijaya Karya Bintang Perbowo menyebut, salah satu perusahaan tersebut bakal melakukan IPO pada semester I 2017 dan satunya pada semester II 2017 dengan jumlah saham yang dilepas ke publik sebesar 30 persen-35 persen.
Sementara, Direktur Utama Wika Gedung Novel Arsyad menyatakan, kemungkinan besar perusahaan akan melakukan IPO pada September atau Oktober tahun ini. Saat ini, manajemen tengah menentukan pelaksana penjamin emisi (underwriter) untuk aksi korporasi tersebut.
"Sedang proses, ada empat atau lima underwriter," ucapnya.
Ia menyebut, beberapa underwriter tersebut berasal dari perusahaan sekuritas pelat merah dan swasta. Sementara, perusahaan menargetkan dana sebesar Rp3 triliun dari IPO.
Selain itu, PT PP Tbk (PTPP) juga akan melepas anak usahanya di BEI pada tahun ini. Berbeda dengan Wijaya Karya, PTPP menyiapkan tiga anak usahanya untuk IPO yaitu, PT PP Peralatan, PT PP Urban, dan PT PP Energi. (gen)