"Kami mengikuti perkembangan terakhir dari pidato Janet Yellen, Gubernur Bank Sentral AS, dan semua pejabat terkait. Minggu depan, saat FOMC meeting, kans-nya di atas 90 persen untuk FFR itu dinaikkan," tutur Gubernur B.I. Agus DW Martowardojo saat ditemui di Gedung Djuanda I Kementerian Keuangan, Senin (6/3).
Menurut dia, pelaku pasar sudah memperhitungkan (price-in) kenaikan FFR bulan ini. Kajian dan komunikasi kepada pelaku pasar juga sudah dilakukan dengan baik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khusus untuk Indonesia, Agus meyakini, dampak kenaikan FFR tidak akan besar karena ditopang oleh stabilitas sistem keuangan dan kinerja makro ekonomi.
Sebagai otoritas moneter, BI akan terus berada dan memantau pasar untuk menjaga kestabilan volatilitas nilai tukar rupiah.
"BI akan terus menjaga agar nilai tukar rupiah itu mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia. BI tidak akan ragu untuk berada di pasar untuk menjaga stabilitas," tegas dia.
Sebagai informasi, FOMC menaikkan FFR terakhir kali pada Desember 2016 sebesar 25 basis poin (bps). Pada rapat yang digelar awal Februari lalu, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap di kisaran 0,5 - 0,75 persen. (bir/gen)